Siapa Teroris Yang Membunuh Rakyat di Gaza Palestina?

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin (Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas)

JurnalPost.com – Dalam pertemuan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dengan negara-negara Barat sekutunya, mereka menyebut Hamas sebagai kelompok terorisme. Untuk memahami siapa sebenarnya yang teroris dan biadab di Gaza Palestina, Israel/Barat atau Hamas, maka perlu memahami secara mendalam makna dari wacana terorisme. Umumnya, terorisme adalah bahasa yang digunakan dan dinyatakan secara resmi dan terbuka oleh pemerintah Amerika dan Israel di depan media massa mereka untuk menggambarkan aksi perlawanan dari rakyat Palestina (Crelinsten, 2021).

Terorisme secara sederhana dapat didefinsikan sebagai ancaman dan penggunaan kekerasan yang direncanakan secara rahasia dan dilaksanakan secara tiba-tiba yang ditujukan kepada satu kelompok sasaran atau korban langsung untuk memaksa kepatuhan dari kelompok sasaran kedua atau sasaran tuntutan demi mengintimidasi atau memberi kesan kepada audiens yang lebih luas yaitu sasaran teror atau sasaran perhatian (Crelinsten, 2021). Dengan kata lain, lazimnya aksi terorisme adalah cara berkomunikasi secara terbuka dari orang/kelompok tertindas kepada penindas demi menyadarkan penindas dan agar diketahui oleh masyarakat luas.

Namun, terorisme tidak mudah dipahami. Terorisme adalah sebuah praktik wacana yang membutuhkan analisis kritis dan mendalam. Makna terorisme hanya bisa dipahami dalam konteks waktu yang panjang dan utuh serta melalui penelitian yang kritis, mendalam serta holistik. Kenyataannya, makna terorisme lebih identik kekuasaan dan permainan wacana penguasa dan media dominan. Dalam kasus Palestina, kelompok pejuang Hamas akan selalu dicap dan dilabeli teroris oleh Amerika, media barat dan Israel sebagai kekuatan dominan dan superpower.
Terorisme adalah bentuk komunikasi khusus yang harus dianalisis berdasarkan praktik wacana dan dampaknya kepada orang lain. Terorisme lazimnya adalah respon terhadap kekerasan struktural dari institusi yang lebih besar dan dominan misalnya negara. Kekerasan yang dilakukan oleh pejuang seringkali dapat dibenarkan sebagai respons terhadap kekerasan institusi negara yang dominan, zalim dan semena-mena.

Hamas misalnya hanya mengatakan bahwa mereka sesungguhnya hanya merespons terorisme (kekerasan) struktural yang dilakukan oleh rezim apartheid zionis Israel yang selama ini menindas bangsa Palestina dan memenjarakan warga Palestina tanpa alasan hukum yang bisa dibenarkan. Aksi terorisme adalah satu-satunya cara yang tersedia untuk melawan Israel. Hasilnya dapat menjadi lingkaran kekerasan antara Israel versus kelompok perlawanan Palestina. Sayangnya, Israel dibantu senjata dan bahkan dibenarkan oleh Barat sehingga membuat Israel jemawa dan bahkan seolah Nazi yang kejam tanpa pandang bulu membunuh ribuan anak-anak dan perempuan di Palestina(Crelinsten, 2021).

Aksi perlawanan Hamas seringkali merespon perluasan wilayah yang dilakukan oleh rezim apartheid zionis Israel. Wilayah yang dicaplok dan dikuasai oleh Israel menjadi hancur karena perlawanan Hamas. Terorisme dalam konteks ini adalah label yang disematkan oleh penjajah Israel, namun bagi Hamas, aski perlawanan mereka adalah perjuangan suci memerdekan Palestina sekaligus upaya memperkuat ideologi politik atau doktrin keagamaan yang mereka yakini.

Baca Juga  Fatmadila Rosa: Membangun Kesuksesan Melalui Transformasi Kolla In Forest

Domain kekuasaan sesungguhnya adalah ranah perebutan makna dari perilaku politik, sosial, atau budaya tertentu. Hamas adalah musuh Barat, tetapi mereka menjadi pahlawan kemerdekaan bagi rakyat Palestina dan bagi mereka yang ditindas oleh Barat. Selama ini, tafsir teroris tergantung kepentingan politik Barat. Di Barat, penembakan massal yang dilakukan warga Amerika di Amerika adalah bukan terorisme. Joseph Stack, pria yang menabrakkan pesawat kecil ke gedung IRS di Austin, Texas, juga tidak disebut teroris. Pembunuhan 10.000 lebih rakyat Gaza dalam beberapa Minggu ini oleh Israel dianggap bukan terorisme.

Pada tahun 2015, ketika Dylann Roof menembak mati sembilan jemaat Afrika-Amerika di Charleston, South Carolina, Departemen Kehakiman AS juga tidak menuduhnya dengan tuduhan terorisme apa pun. Banyak yang berpendapat bahwa hal ini karena dia adalah warga kulit putih dan bukan muslim. Di samping itu, hukum murni Amerika juga tidak mengenal adanya tuduhan teorisme.

Kenaifan serupa terjadi pada Oktober 2017, ketika Stephen Paddock membunuh 58 penonton konser dan melukai 851 lainnya di Las Vegas, tetapi media dan otoritas termasuk Presiden tidak menyebut penembakan itu sebagai terorisme. Padahal, jika merujuk kepada definsi terorisme Ronald Crelinsten (2021), ini adalah aksi terorisme. Hal ini dikuatkan oleh saksi yang menyatakan bahwa Paddock adalah seorang teroris konspirasi sayap kanan yang tidak puas dengan aturan kontrol senjata di Amerika (Crelinsten, 2021).

Dengan kata lain, Amerika menolak memberi label teroris kepada sesama warga Amerika dan aksi sekutunya, Israel, di Gaza Palestina. Tetapi, cenderung memberi label terorisme kepada aksi perlawanan Muslim yang dianggap bukan warga Amerika dan bukan sekutu Amerika. Di sini, Hamas cenderung dilabeli teroris oleh Barat hanya karena mereka muslim, bukan Barat dan melawan kepentingan Israel dan sekutunya. Walaupun Hamas berada di posisi benar memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Dengan kata lain, siapa pun yang memiliki kekuasaan maka pasti cenderung menentukan makna dari terorisme sesuai dengan kepentingan politiknya. Sayangnya, pemilik kekuasaan dominan seperti Amerika dan Israel juga bisa berkelit dengan menyangkal legitimasi lawan politiknya dan menggunakan hukum pidana dan sistem peradilan pidana yang berlaku untuk memenangkan kepentingannya. Pemidanaan tindakan terorisme menghilangkan arti politiknya sebagai perjuangan melawan kezaliman dan menjadikannya sebagai kejahatan biasa yang wajib dihukum.

Aksi perlawanan Hamas dianggap aksi terorisme oleh Israel dan negara-negara sekutunya di Barat. Padahal, Hamas hanya menyuarakan penindasan yang dilakukan rezim apartheid zionis Israel terhadap rakyat Palestina secara sosial, budaya, ekonomi, atau politik. Namun, Israel dan Barat selama ini pandai bersilat lidah dan menyembunyikan kezaliman dan kebiadaban mereka terutama kepada perempuan dan anak-anak di Palestina.

Baca Juga  Golf Tournament Kepala PPSDM Migas Cup untuk Memeriahkan HUT ke-58 PPSDM Migas

Namun, kepintaran pemerintah Israel dan Barat segera terbongkar ketika diliput oleh media seperti kasus genosida Israel terhadap 10.000 lebih rakyat Gaza dalam satu bulan ini dan penindasan masa lalu tentara Amerika di Abu Ghraib, Irak. Hal ini akhirnya makin menguatkan argumentasi bahwa wacana terorisme yang selama ini dialamatkan kepada pejuang Palestina adalah pelabelan negatif Israel, Barat dan media pendukungnya saja kepada pejuang Palestina yang mencoba berjuang memerdekakan Palestina dari penjajahan rezim apartheid zionis Israel (Crelinsten, 2021).

Kemenangan Israel, Barat dan media pendukungnya selama ini karena adanya doktrin superioritas pengetahuan, keberpihakan lembaga internasional dan hukum internasional yang digunakan Barat dan Israel untuk melindungi praktik wacana terorisme mereka terhadap Hamas secara khusus dan negara Islam dan kaum muslim secara umum di kawasan Timur Tengah dan Asia Barat.

Ironisnya, Israel dan Barat seolah memiliki monopoli atas penggunaan kekerasan terhadap rakyat Palestina. Mereka bebas membunuh rakyat Palestina dengan alasan yang direkayasa tanpa meneliti lebih dulu kebenaran fakta, data akurat dan berimbang serta lebih jauh memandang motif di balik aksi perlawanan Hamas sebagai kritik atas dominasi, penindasan dan kezaliman Israel selama 75 tahun mencaplok tanah Palestina dan memperlakukan warga Palestina seperti budak dan binatang yang tak punya harga diri.

Jadi, dalam aksi terorisme (praktik wacana Barat) di dunia Islam sebagai perjuangan untuk merdeka dan melawan dominasi Barat dan Israel maka aktor–aktor pejuang Islam seperti Hamas akan bersaing dengan Barat dan Israel untuk mendapatkan simpati dari masyarakat. Serangan 9/11 oleh Al-Qaidah adalah contoh dari perebutan klaim ini. Pemerintah Amerika dan dunia Islam serta muslim berbeda dalam memandang aksi 9/11.

Barat merespon aksi 9/11 sebagai terorisme dan musuh dunia serta bertentangan dengan keamanan global dan tatanan internasional. Aktor 9/11 dan jaringannya harus ditangkap di manapun walau harus membabi buta menginvasi Afghanistan dan negara Islam di Timur Tengah. Di sisi lain, aktor 9/11 menganggap Amerika adalah teroris sejati. Hal ini sama dengan peristiwa di Gaza Palestina, terjadi perebutan klaim. Israel dan Barat menganggap Hamas adalah teroris. Bagi Hamas, justru Israel dan Baratlah yang teroris sejati yang telah membunuh ribuan manusia di Palestina (Crelinsten, 2021).

Alhasil, terorisme adalah praktik dan taktik komunikasi Barat untuk mendominasi dunia. Mereka seenaknya membelokkan makna terorisme karena mereka menguasai media dan wacana global. Di sinilah, Israel dan Barat adalah teroris sejati karena menjadikan wacana terorisme sebagai justifikasi untuk melakukan genosida di Gaza dan di seluruh dunia selama ini.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *