Problem Psikologis Suami Bila Istri Lebih Sukses

Oleh: Azzahra Nabila
Fakultas psikologi universitas Islam Negeri Ar-Raniry

JurnalPost.com – Wanita selalu menjadi topik yang mengasyikkan untuk dibicarakan, khususnya berkaitan dengan dilema antara karier dan ibu rumah tangga. Jarang sekali perbincangan tentang pria yang menjadi topik menarik. Padahal banyak masalah kaum pria, seperti peranan pria sebagai suami yang menjadi pendamping istri, dimana karier istri lebih sukses daripada kariernya sendiri. Kesuksesan istri yang melebihi suami menjadi problem psikologis yang cukup berat bagi para suami.

Fenomena ini menimbulkan inferioritas dalam diri suami, dimana biasanya suami yang mengambil keputusan, sekarang sedikit demi sedikit diimbangi oleh istri. Inferioritas adalah perasaan yang timbul akibat lemahnya kondisi psikologis dan sosial yang dirasakan secara pribadi atau perasaan yang timbul karena kelemahan yang dimiliki (Nugrahaningtyas, 2014). Munculnya inferioritas ditandai dengan perasaan tidak percaya diri suami dalam mengambil keputusan dan merasa rendah diri karena istri yang lebih unggul.

Problem suami bermula dari harapan masyarakat bahwa suami harus lebih unggul dari istri, baik dari segi pendidikan maupun penghasilan. Karena yang diharapkan sebagai penopang ekonomi keluarga yang utama adalah suami. Ahli sosiologi yang menggunakan penekatan fungsionalis (talcott parsons) berpendapat bahwa perbedaan tugas secara seksual akan menjamin keharmonisan rumah tangga. Suami bekerja mencari nafkah, dan istri mengurus rumah tangga. Hal ini akan mengurangi potensi terjadinya konflik dalam rumah tangga, karena kejelasan status tersebut penting bagi ketentraman psikologis suami.

Konsekuensi dari harapan masyarakat bahwa suami harus lebih unggul dari istri adalah suami akan merasa rendah diri dan menilai dirirnya negatif. Perasaan ini bisa timbul dari kritikan masyarakat, disepelekan oleh keluarga pihak istri, bahkan bisa disebabkan oleh sifat istri yang merasa dirinya serba lebih, walaupun tdak semua istri seperti itu. Sehingga membuat ego suami terluka, dan menyebabkan terjadinya kasus KDRT.

Baca Juga  Pemilu yang Jurdil | Jurnalpost

Seperti yang dilansir dari detik health.com kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih cukup tinggi. Menurut catatan kemenPPPA di tahun 2022, sekitar 18 ribu perempuan menjadi korban KDRT. Psikolog klinis A Kasandra Putranto mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan perempuan rentan menjadi korban kekerasan, salah satunya adalah finansial. Ketika istri berpenghasilan lebih tinggi dari suami, menimbulkan sifat insecure yang membuat suami melakukan kekerasan untuk menunjukkan kekuasaan.

Ada sebagian suami yang mungkin berfikir sebaliknya, mereka merasa bersyukur karena istrisnya mempunyai penghasilan yang lebih besar sehingga, ekonomi keluarga lebih stabil. Tapi tidak banyak yang berfikir demikian. Bagaimana cara mengurangi dampaknya? Dalam hal ini sangat dibutuhkan peranan istri dalam mengurangi problem psikologis yang terjadi pada suami yaitu dengan cara tidak melepaskan tanggung jawab dirinya sebagai ibu rumah tangga dan pendamping suami. Walaupun seorang istri sangat sibuk, tetapi jangan lupakan tugasnya sebagai seorang istri. Tidak menyepelekan suami di depan anak, sanak saudara, dan didepan teman adalah hal yang harus diperhatikan agar suami tidak merasa rendah diri.

Kamal (2009) memberikan beberapa pendapat untuk mengatasi permasalah keluarga yang terjadi karena penghasilan istri lebih besar dari suami:

1. Bersyukur dan tetap saling mendukung
Mencoba untuk mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan, termasuk penghasilan istri yang lebih besar. Dan sangat penting untuk saling mendukung dan tidak saling merendahkan.

2. Tetap percaya diri
Jangan minder karena penghasilan istri lebih banyak, tetap berpikir positif bahwa penghasilan istri yang lebih banyak dapat membatu perekonomian keluarga.

3. Saling terbuka
Sebelum menikah usahakan untuk membahas perihal penghasilan, saling terbuka tentang penghasilan masing-masing akan meminimalisir terjadinya konflik setelah menikah.

Baca Juga  Membaca Kapitalisme Pasar dari Perdagangan Eceran dan Pasar Lokal

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *