Pertarungan Ruang Hidup di Era Perubahan Iklim dan Eksploitasi Sumber Daya

Sumber foto: Pixabay.com

JurnalPost.com – Baru-baru ini viral sebuah video pendek di sosial media memperlihatkan dua orang membawa tombak ke arah perekam video. Dilansir dalam akun Survival Internasional mengatakan bahwa dua orang tersebut berasal dari suku Hongana Manyawa, penduduk pedalaman asli di Halmahera. Mereka tampak ragu dan takut menyebrang sungai, berjalan ke arah perekam sembari mengangkat tombak. Tampak disana juga ada suara mesin berat yang diduga adalah buldoser. Saat mesin buldoser dinyalakan, mereka takut dan lari menjauh.

Menyaksikan video ini cukup memprihatinkan bagi saya. Survival Internasional mengatakan bahwa suku Hongana Manyawa belum pernah tersentuh oleh manusia luar. Saat raksasa datang ke ruang hidup mereka, muncul ketakutan dan keterancaman. Karena merasa takut dan terancam, mereka lari menghindari raksasa. Saya menggunakan istilah raksasa untuk menggambarkan teknologi-teknologi modern yang digunakan untuk menakut-nakuti mereka.

Suku Hongana Manyawa tampak tidak tahu apa alat berat yang menyerupai raksasa itu, yang mereka tahu adalah ada raksasa yang akan mengancam ruang hidupnya. Alat-alat berat dihadirkan untuk mengeruk nikel sebagai bahan baku baterai mobil listrik. Penggunaan mobil listrik sedang digencarkan oleh pemerintah karena dianggap lebih ramah lingkungan. Emisi CO2 disinyalir lebih rendah dibanding kendaraan berbahan bakar fosil, sehingga dapat mengurangi polusi udara. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan untuk mendorong daya beli masyarakat terhadap mobil listrik.

Dalam konsep ketidakadilan iklim (Crate&Nuttal, 2016), masyarakat yang paling banyak diuntungkan dari kebijakan tersebut ialah mereka yang tinggal di perkotaan karena dapat menikmati udara yang sedikit lebih jernih. Namun bagaimana dengan masyarakat yang hidup di sekitar corong-corong pabrik hasil pembakaran batu bara? Mereka akan semakin banyak menghirup asap hasil dari pembakaran batu bara. Film dokumenter sexy killer memperlihatkan bahwa batubara merupakan energi kotor. Hasil pembakaran batubara membuat masyarakat mengalami gangguan pernafasan, lebih parahnya lagi dapat menyebabkan kanker paru – paru hingga kematian.

Baca Juga  Pesona Pasar Tradisional yang Tak Pernah Redup

Penggunaan mobil listrik secara masif di perkotaan akan semakin meningkatkan pemanasan global, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di sekitar PLTU. Masyarakat perkotaan menikmati manfaat langsung dari mobil listrik, sedangkan masyarakat di sekitar pabrik harus menerima risiko terpapar berbagai penyakit. Selain itu, biaya kerugian yang dibayarkan secara materi tidak sebanding dengan kerugian ancaman kesehatan yang mereka dapat. Tampaknya istilah “siapa yang berbuat, siapa yang bertanggung jawab” tepat untuk menggambarkan kondisi ketidakadilan iklim tersebut.

Ketidakadilan serupa juga tampak dalam kasus penambangan nikel. Kebutuhan nikel sebagai bahan baterai untuk melancarkan bisnis mobil listrik telah mengorbankan ruang hidup suku Hongana Manyawa. Mereka dirugikan karena ruang hidup yang selama ini mereka jaga diganggu oleh kepentingan pertambangan nikel. Pembabatan hutan dilakukan untuk melancarkan kepentingan kaum bermodal, di sisi lain juga mengorbankan kaum marginal. Habisnya hutan sama dengan berkurangnya sumber daya alam. Pihak yang paling terdampak dalam situasi seperti ini ialah masyarakat yang menjadikan hutan sebagai rumah untuk hidup. Suku Hongana Manyawa adalah salah satu contohnya.

Apakah kasus pada suku Hongana Manyawa adalah kejadian pertama di Indonesia? Tentu tidak. Secara historis, hal serupa juga dialami oleh suku Anak Dalam di Jambi. Mereka mengalami perubahan ruang hidup karena ekspansi kapitalis dalam bentuk perkebunan sawit dan perubahan status kawasan hutan. Mereka dipaksa keluar dari produksi tanaman pangan tradisional supaya tunduk pada bisnis sawit yang menjanjikan kesejahteraan. Janji kesejahteraan yang diiming-imingkan nyatanya hanyalah sekedar janji. Banyak masalah mulai dari tumpang tindih penguasaan tanah hingga peminggiran dan penggusuran.

Selama ini kita tahu bahwa salah satu kekayaan milik Indonesia ialah keberagaman suku. Tentu hal ini merupakan sebuah hal yang patut disyukuri. Namun di lain sisi, permasalahannya adalah bagaimana kondisi suku-suku ini? apakah mereka sudah hidup sejahtera berdampingan dengan alam yang mereka punya? Ada beberapa suku yang telah diakui dan dilindungi wilayah adatnya oleh negara, seperti hutan adat Baduy, Nias, dan Toraja. Perlindungan wilayah adat sama dengan melindungi ruang hidup dan eksistensi suku-suku tersebut.
Bagaimanapun juga suku-suku ini sejatinya merupakan garda terdepan dalam menjaga alam. Hidup dengan teknologi sederhana yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Mereka menganggap alam adalah sumber kehidupan, sehingga perlu dilestarikan. Hilang alam hilang pula identitas budaya. Dalam hal ini kebudayaan dimaknai sebagai bentuk respon terhadap kondisi lingkungan (Steward, 1968). Oleh karena itu, mengambil ruang hidup sama saja dengan mencabut mereka dari akarnya. Menghilangkan kebudayaan yang selama ini digunakan sebagai strategi bertahan hidup.

Baca Juga  Muda Wani Gerak: Youth Camp 3 Hari Tentang Pendidikan Lingkungan dan Perubahan Iklim se-Jawa Timur

Solusi pembebasan lahan dengan memindahkan sekelompok suku ke ruang hidup lain bukanlah tanpa risiko. Pemindahan sama dengan mengubah budaya sebagai identitas diri. Mereka dituntut untuk masuk ke dalam budaya asing. Hal ini sama saja dengan upaya asimilasi yang mengarah pada dekulturisasi. Tidak ada seorangpun yang suka dipaksa untuk meninggalkan kebiasaan yang sudah dirawat sejak lama. Apalagi dipaksa untuk langsung menerima kebudayan yang asing dari kehidupan mereka. Oleh karena itu, berbagai upaya pengakuan hak adat sangat diperlukan oleh suku-suku marginal yang ada di Indonesia. Pengakuan tersebut dapat melindungi mereka dari ketidakpastian hidup di masa yang akan datang.

Referensi:
Crate, S.A. & Nuttal, M. (2016). Anthropology and Climate Change. New York: Routledge
Steward, J.H. (1968). Cultural Ecology. International Encyclopedia of the Social Sciences Vol. 4
https://www.instagram.com/ reel/CzBtOKtMbBT/?utm_source=ig_web_copy_link&igshid=ZWQ3ODFjY2VlOQ==
https://youtu.be/ qlB7vg4I-To?si=_I9kDUQhjcB0jihP

Profil penulis:
Nama : Isna Maulida Ahmad
Instansi : Mahasiswi Antropologi, Universitas Gadjah Mada



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *