Mereka yang Merayakan Lebaran di Stasiun Kejaksan

Porter mengikuti mobil yang baru memasuki area Stasiun Kejaksan, Cirebon untuk membantu membawakan barang-barang ke dalam stasiun. (Dok Pribadi/Fauziah Azhar)

Ditulis oleh: Fauziah Herlina Azhar

JurnalPost.com – Makan-makan bersama keluarga, berkumpul dengan saudara yang hanya bisa setahun sekali bertemu di momentum lebaran, bercanda dan bernostalgia di ruang tamu bersamaan dengan suara takbiran menggema di masjid-masjid sekitar. Suasana hangat yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh beberapa keluarga.

Sementara itu di tempat lain, ada beberapa anggota keluarga yang tidak bisa merasakan momen hangat tersebut. Ada yang harus menjalankan kewajibannya, ada yang tidak bisa pulang, ada yang memilih untuk tidak pulang, ada juga yang memilih untuk mencari rezeki untuk keluarga. Sama hangatnya, tetapi beda yang dilakukannya.

Nurhadi (49) adalah salah satu kepala keluarga yang memilih tetap bekerja menjadi seorang porter saat malam takbiran (9/4) di Stasiun Kejaksan, Cirebon.

Dikutip dari Tribun Jabar, menurut Manager Humas Daop 2 Bandung Ayep Hanapi, sejak pra lebaran yakni 31 Maret sampai 9 April 2024, ada sebanyak 125.834 penumpang kereta api di Stasiun Kejaksan, Cirebon.

Di hari itu, memang suasana stasiun cukup ramai. Nurhadi bekerja dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB. Ketika teman-temannya pamit pulang pada pukul 19.00 WIB, Nurhadi memilih untuk tetap tinggal di stasiun bersama beberapa porter yang lain.

“Pas malem takbiran itu lagi rame-ramenya, Neng. Yah.. lumayan buat nambah-nambah uang lebaran. Saya di sini sampe jam 2 pagi. Bareng sama porter yang lain. Cuma emang engga banyak. Porter di sini kurang lebih ada 100an, ya paling semalem ada 10 porter ga pulang.” Kata Pak Nurhadi saat diwawancarai pada Jumat (12/4).

Tidak ada suara senda gurau bersama keluarga, malam itu Nurhadi ditemani ramainya suara penumpang, suara peron, dan suara takbiran yang sayup-sayup terdengar. Namun demikian, Nurhadi mengaku merasa senang dan masih mendapatkan momen lebaran itu.

“Ah, sayamah gapapa, Neng. Kalau tahun kemarin saya takbirannya di rumah. Kalau temen-temen saya yang lain ada tuh udah beberapa tahun ga di rumah. Sedihmah ada tapi kan buat keluarga juga, jadi gapapa lah. Nanti juga ada waktu lagi.”

Baca Juga  Oeroeg (Going Home): Power Relations in Colonialism in Indonesia
Porter yang sedang menunggu pengunjung di depan pintu masuk Stasiun Kejaksan, Cirebon. (Dok. Pribadi/Fauziah Azhar)

Selain itu, Nurhadi juga mengaku tidak sempat mudik ke kampung halaman. Pun dengan porter yang lain. Hal ini dikarenakan mereka masih satu domisisli di Cirebon. Ada juga porter yang pulang kampung saat puasa. Tidak adanya peraturan libur membuat para porter bebas untuk menentukan hari libur sendiri. Selain hari libur, porter juga bebas jam kerja dan bebas jam istirahat.

Akan tetapi, dari ramainya jumlah pengunjung saat itu, Pak Nurhadi mengaku jika pendapatan yang diperolehnya hanya bertambah sedikit dibanding tahun lalu. Pada Tahun 2023, Nurhadi bisa memperoleh sekitar Rp 300.000 namun tahun ini hanya sekitar Rp 150.000.

“Ada yang emang gamau, Neng. Ada juga yang dibantuin keluarga. Ya gapapa asal ga bawanya sendirian soalnya berat. Nanti pake koyo kaya punggung saya.” Jelas Nurhadi diselingi tawa kecil. Tak lama pamit karena ada mobil yang memasuki area stasiun.

Perbincangan dilanjut dengan Wajari (58) dan Sunaryo (49) sembari menunggu mobil berikutnya datang di bawah pohon rindang depan stasiun. Di hari kedua setelah lebaran ini (12/4) Sunaryo dan Wajari mengaku juga jika memang pendapatannya menurun dari tahun kemarin walaupun pengunjung ramai.

“Kadangmah ini kaya hari biasa, Neng. Dapetnya Rp 150.000. Tapi ya harus tetep bersyukur.” Kata Sunaryo.

Sunaryo sudah bekerja selama 20 tahun menjadi seorang porter. Sebelumnya ia bekerja sebagai tukang cuci kereta. Kemudian pada tahun 2004, Sunaryo mulai bekerja menjadi porter.
“Saya dari 2004. Dulu jadi tukang cuci kereta. Terus pindah jadi porter. Dulu tinggal daftar aja cuman KTP. Sekarang udah harus lampirin surat-surat pendukung yang lain.” Sunaryo mengaku dalam kurun waktu yang lama itu, ia tidak pernah merasa bosan dengan pekerjaan yang dilakukan.

Baca Juga  Pengabdian Mahasiswa Kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang Gelar Edukasi Dan Praktek Pengelolahan Sampah Botol

Karena secara tidak langsung porter ini berada di bawah naungan KAI, para porter selalu dilibatkan dalam beberapa kegiatan sosial.

“Kaya tadi pagi, kita ada kegiatan kerja bakti setiap hari Jumat sama Minggu. Bersihin daun-daun. Kadang juga ada senam bersama di sini jadi seru.” Cerita Wajari. Tak lama ia melanjutkan, “kalau tahun kemarin sempet ada emang bagi-bagi hampers sama pihak KAI tapi tahun sekarang gaada.” Obrolan terhenti saat satu mobil kembali memasuki parkiran stasiun “Saya lanjut kerja dulu ya, Neng.”

Setiap kali ada mobil datang, para porter saling bergantian untuk ‘membooking’ pengunjung tersebut. Jika memang ada barang bawaan, porter akan membantu membawa tas di pundak kemudian satu tangannya membawa satu atau dua tas yang ukurannya lumayan besar.

Porter membawakan barang bawaan pengunjung untuk dibawa masuk ke dalam stasiun. (Dok. Pribadi/ Fauziah Azhar)

Jasa membawakan barang oleh porter ini dirasa cukup membantu untuk beberapa pemudik. Ana (19) mengaku merasa terbantu dengan adanya porter ini apalagi di momen lebaran. Banyak pengunjung dan bawaan yang lumayan banyak cukup membuat Ana repot.

“Kadang agak sulit mobilisasinya. Apalagi bawa barang bawaan terus sendirian. Jadi merasa terbantu banget. Apalagi kalau udah naik kereta terus porter baris buat doain biar selamat sampai tujuan. Rasanya kaya dianterin aja gitu buat kumpul sama keluarga.” Jelas Ana dengan antusias.

Ana sudah beberapa kali menggunakan kereta untuk transportasi pulang ke rumah. Ana mengaku senang jika dibantu apalagi mendapat kesempatan untuk mengobrol dengan porter. Karena jauh dari keluarga, mengobrol bersama porter yang kebanyakan usia lanjut ini bisa memenuhi kerinduannya akan mengobrol bersama orang tua di rumah.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *