Mengenal Budaya Perilaku “amae” Melalui “Self”

Sumber: freepik

JurnalPost.com – Psikolog sosial asal Belanda yang bernama Hofstede (1980) menemukan bahwa 80% populasi dunia hidup bergantung pada orang lain, dengan kata lain identitas dirinya ditentukan oleh faktor external dirinya yakni kelompok, tentu hal ini dapat masuk ke dalam kultur kolektivisme yang berarti penekanan yang lebih pada kepentingan kelompok. Markus dan Kitayama (1990) menyebut kultur kolektivisme ini dalam istilah interdependent view of self yang meliputi identitas diri seseorang yang ditentukan oleh peran dan keanggotaan dari sebuah kelompok. Tentu hal ini menggugah sebuah pertanyaan. Apa yang mendasari mekanisme interdependent view of self atau kultur kolektivism ini? Apakah anteseden dari interdependent view of self atau kultur kolektivism ini? Dan kalau di konsepkan dan didefinisikan, maka apa nama lain dari interdependent view of self atau kultur kolektivism ini? Dan di budaya apa dapat kita temukan fenomena interdependent view of self atau kultur kolektivism ini?

Takeo Doi, seorang psikoanalis asal Jepang menamakan konsep lain dari interdependent view of self ini sebagai amae dalam bukunya the anatomy of dependence. Amae diambil dari kosakata bahasa Jepang yang berarti sweet / manis, sedangkan setelah diterjemahkan menjadi bahasa Inggris dapat berarti playful atau babyish behaviour yang artinya bermain-main atau berperilaku seperti anak bayi. Mentalitas Amae didefinisikan sebagai upaya untuk menyangkal fakta separasi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari keberadaan manusia dan untuk menghilangkan rasa sakit karena separasi dan amae dipertimbangkan sebagai aspek fundamental dalam psikologi rakyat Jepang sejak dahulu kala (Doi, 1973). Behrens (2004) pun menambahkan bahwa amae dapat dideskripsikan sebagai konsep yang berasal dari orang Jepang asli mengenai keterkaitan. Doi (1973) menekankan hubungan ibu-anak sebagai prototipe dari hubungan amae sepanjang hidup umur seseorang dan menambahkan bahwa amae menumbuhkan rasa kesatuan antara seorang ibu dan anak.

Taketomo (1986) melengkapi dan menambahkan dari literatur Doi (1973) bahwa Doi kehilangan fitur mekanisme metakomunikal dari amae itu sendiri, yang diungkapkan oleh Taketomo bahwa adanya mekanisme amaeru dan amayakasu dalam amae. Saat seorang anak secara playful meniru perilaku seorang infant, maka anak tersebut tidaklah menjadi infant seperti yang dikatakan oleh Doi. Namun, dengan perilaku tersebut sang anak berusaha untuk mengkomunikasikan kepada ibunya bahwa ia menginginkan amaeru dan menginginkan ibunya untuk melakukan amayakasu kepadanya. Taketomo setuju dengan Doi bahwa amae yang memiliki unsur infantil merupakan prototipe, namun Taketomo lebih berfokus pada fenomena amae yang terjadi pada masa anak anak dan masa dewasa, tidak hanya masa infantil. Contoh pada masa dewasa yang dijabarkan oleh Taketomo adalah saat seorang wanita dewasa berperilaku secara playful seperti seorang infant.

Baca Juga  Tukak lambung dan GERD, Penyakit yang sama atau berbeda?

Maruta (1992) berargumen dan mengkritik Doi bahwa Doi hanya berfokus kepada anak yang menginginkan amaeru, dan mengabaikan peran ibu yang ingin amayakasu. Infant ataupun sang ibu dapat menginisiasi proses amae dengan tujuan memperbarui intimasi ataupun rasa aman. Maruta mengatakan bahwa amae yang sukses adalah ketika hal tersebut menimbulkan kenikmatan untuk kedua pihak, yakni untuk menciptakan rasa nyaman yang mutual antara kedua belah pihak. Maruta menambahkan bahwa mempelajari sesuatu yang nyaman secara mutual merupakan bagian signifikan dalam berkembang dan bertumbuh untuk bertahan hidup di Jepang, tentu hal ini dapat dikatakan sebagai bagian dari budaya Jepang, karena berkaitan dengan definisi operasional budaya yakni “the way we do things here and now”.

Watanabe (1992) mengklaim saat seorang ibu melakukan amayakasu kepada anaknya, dan alhasil memenuhi kebutuhan sang anak, dapat menjadi sebuah keuntungan bagi sang anak karena anak akan merasa aman. Namun dapat menjadi berbahaya dan tidak membuat rasa nyaman pada anak ketika sang ibu melakukan amayakasu untuk memenuhi kebutuhan ego sang ibu. Watanabe membedakan amae yang terjadi saat anak anak dengan amae yang terjadi pada orang dewasa, yakni ekspektasi social dan obligasi perlu untuk dipenuhi agar amae dapat termanifestasi.

Johnson (1993) melalui ulasannya mengenai amae membuat beberapa poin kunci bahwa amae berada dalam wilayah yang lebih luas daripada hubungan dependen ataupun interdependen. Amae diidentifikasi oleh Doi sebagai dorongan, keinginan ataupun motif dasar pada diri manusia. Amae mengkonstitusikan ekspresi kultural Jepang mengenai dependensi yang bersifat memanjakan seseorang, dan versi-versi lain dari dinamika ini mengambil bentuk bentuk berbeda dalam kultur-kultur yang berbeda secara universal. Dependensi dan interdependensi pada konteks amae dapat diamati sepanjang hidup seseorang. Amae bukanlah fenomena yang simple, karena dapat diperiksa melalui berbagai macam tingkatan pengalaman subjektif dan perilaku subjektif seseorang. Maka tentunya dari hasil ulasan komprehennsif Johnson (1993) ini dapat dikatakan bahwa amae dapat dikaji dan diaplikasikan tidak hanya dalam ruang lingkup yang sempit, namun lebih luas lagi.

Baca Juga  Nikeheffa Serius Jadi Influencer, Berawal dari Iseng Review Skincare hingga Punya Ratusan Ribu Pengikut

Meskipun konsep amae masih dalam tahap pembelajaran lebih dalam dan lanjut, amae dapat diimplikasikan dalam kehidupan sehari hari. Karena amae meliputi sebuah hubungan antara kedua belah pihak, maka hubungan amae dapat dikarakteristikan dengan perilaku yang mengambil peran dimana satu orang merupakan peminta amae atau amaeru dan yang lain adalah penyedia amae atau amayakasu. Maka, konsep ini dapat digunakan dalam aspek hubungan interpersonal, contohnya adalah hubungan romantis antar pasangan. Perilaku amae dapat meningkatkan kualitas hubungan saat peminta dan penyedia termotivasi dari keinginan untuk meningkatkan intimasi, seseorang yang memiliki tujuan intimasi tinggi cenderung lebih terlibat dengan aktivitas-aktivitas bersama pasangannya, untuk menyediakan support sosial dan mempersepsikan pasangannya sebagai memiliki tujuan intimasi yang kuat dapat memantapkan kepuasan dalam sebuah hubungan (Sanderson & Cantor, 2001). Motivasi intimasi juga terasosiasikan dengan emosi positif yang lebih banyak dan kultivasi yang lebih baik melalui percakapan antar pasangan (McAdams & Constantian, 1983). Menurut Marshall et al (2010) perilaku amae pada pasangan romantis dapat terasosiasikan dengan kualitas hubungan yang lebih baik dan konflik yang lebih berkurang antar pasangan serta peningkatan motivasi untuk kedekatan dalam hubungan romantis.

Kita perlu meningkatkan dan menciptakan budaya perilaku amae yang universal dalam keseharian kita. Salah satunya adalah dalam ruang lingkup mikro yakni antara hubungan romantis pasangan, yang semoga dapat berdampak kepada ruang lingkup makro dalam sebuah masyarakat yang berbudaya amae dalam rangka memanifestikan emosi positif, komunikasi yang baik secara interpersonal, kualitas hubungan yang baik secara interpersonal, konflik yang berkurang secara interpersonal maupun intrapersonal dan intimasi yang lebih baik secara interpersonal dan intrapersonal.

Penulis: Noer Fitrianto Priyo Hutomo, Program Studi Magister Psikologi Sains, Tarumanagara University

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *