Fakta Unik, Chinstrap penguin Melakukan Microsleep Ribuan Kali dalam Sehari

JurnalPost.com – Penguin adalah hewan jenis burung yang memiliki keunikan, berbeda dengan burung pada umumnya, penguin tidak dapat terbang. Meski demikian, penguin punya kelebihan berenang yang gesit dan lincah dengan bantuan sayapnya yang kokoh dan otot dada yang kuat. Mereka dapat berenang hingga mencapai 22 mil/jam.

Secara umum penguin hidup dibelahan bumi selatan, Antartika. Namun ada juga penguin yang hidup didaerah tropis. Terdaat 16 spesies penguin diseluruh dunia, 3 spesies diantaranya hidup didaerah tropis. Penguin kaisar atau Aptenodytes forsteri merupakan spesies penguin terbesar dengan tinggi mencapai 1,1 meter dan berat 30 kg. Sedangkan Eudyptula minor adalah spesies penguin terkecil dengan tinggi sekitar 40 cm dan berat 1 kg. Ukuran dari penguin ini mempengaruhi daya tahan tubuh mereka terhadap daerah dingin.

Baru baru ini, Won Young Lee seorang ahli ekologi perilaku dari Korea melakukan penelitian mengenai pola tidur penguin tali dagu, dia bekerjasama dengan seorang ahli ekofisiologi tidur dari Prancis Paul-Antoire Liborel dan para peneliti lainnya dengan mengamati penguin tali dagu di pulau King George, Antartika.

Chinstrap penguin atau penguin tali dagu merupakan penguin yang memiliki garis tipis khas yang memanjang dari telinga satu ke telinga lainnya, mereka hidup berkoloni agar aman dan terhindar dari predator. Hal inilah yang mempengaruhi pola tidur dari penguin ini karena kebisingan koloni.

Tim Peneliti melakukan pengamatan dengan mengambil sampel 14 ekor penguin dari ribuan penguin tali dagu di pulau King George. Mereka memasangkan sensor untuk melacak aktivitas otak dari 14 ekor penguin tersebut selama beberapa minggu. Hasil yang didapatkan sangat mencengangkan, penguin tali dagu melakukan microsleep atau tidur singkat yang berlangsung sekitar 4 detik sebanyak 600 kali/jam dan sekitar 10 ribu kali/hari. Meski demikian, menurut peneliti banyaknya microsleep yang dilakukan penguin tali dagu ini tidak berdampak buruk untuk tubuhnya. Hal ini karena koloni penguin ini bisa bertahan hidup hingga saat ini.

Baca Juga  Menavigasi Era Digital: Peran Teknologi Cloud Computing dalam Inovasi Teknologi Sains Data

Keheningan saraf sesaat memberikan ruang bagi penguin tali dagu untuk istirahat dan pemulihan saraf. Penguin bisa lebih fleksibel dalam membagi waktu tidurnya menjadi jangka pendek dan jangka panjang. Tulis peneliti dalam jurnal Science yang dipublikasikan pada akhir November 2023 lalu.

Author:
Siti Khodija
Mahasiswa Program Studi Tadris Biologi UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *